Selasa, November 17, 2020

Fakta menarik pada Queue Winbox Mikrotik

Rate this posting:
{[['']]}

1.Warna Queue pada winbox hanya sebagai indikator untuk menunjukan kepadatan trafik.

Hijau = 0% - 50% dari max-limit
Kuning = 51% - 75% dari max-limit
Merah = 76% - 100% mencapai max-limit

2.Queue Type pada parent queue apapun itu pcq, pfifo, sfq atau red akan diabaikan dan tetap mengacu pada type default hardware bukan lagi default-small/default dan queue type hanya bekerja pada child queue (leaf queue)

3. Simple queue dibaca dari urutan teratas lalu kebawah kemudian baru menentukan prioritasnya, berbeda dengan Queue tree yang di baca langsung berdasarkan prioritasnya.

4. Antara Queue Tree dan Simple Queue mana yang di proses terlebih dahulu? jawabnnya Queue tree, ya betul di versi 6 queue tree di proses terlebih dahulu dari pada simple queue.

5.Pada simple queue menggunakan rate limit di hotspot/pppoe 1M/1M 0/0 0/0 0/0 8 0/0 jauh lebih baik dari pada hanya menggunakan 1M/1M, terutama untuk bandwidth shared Upto seperti indihome.

6.Dalam HTB (Hierarchical Token Bucket), Parent atau Sub Parent pada queue tree tidak mengenal prioritas, dan hanya child / leaf queue saja yang mengenal prioritas artinya hanya posisi terbawah saja yang hanya mengenal priotitas dengan catatan sub parent tidak menggunakan nilai Limit-at.

7.Child atau leaf queue pada Simple Queue dengan queue type pfifo "default-small" tidak akan bekerja jika max-limit nya menggunakan "Unlimited" dan hanya akan bekerja jika max-limit berisi nilai, solusi max-limit unlimited pada simple queue sebagai child bisa menggunakan queue type yang lain seperti pcq atau pfifo "default"

8.Bagus mana queue tree vs simple queue?
Simple queue sangat ringan, tidak terlalu membebani cpu karena bisa langsung digunakan tanpa harus adanya mangle dan cukup langsung dengan menentukan ip address saja, sedangkan queue tree digunakan untuk managemen yang sangat kompleks, queue tree tidak bisa berjalan tanpa adanya mangle, jika kebutuhan Queue lebih detail berdasarkan service, protocol, port, dll maka Queue Tree adalah jawabannya. Simple Queue juga memiliki parameter mark-packet, namun dari sisi management akan lebih mudah jika mark-packet diterapkan pada Queue Tree.

9.Bisakah queue tree dan simple queue jalan bersamaan?
Sangat bisa, karena disini queue tree di proses terlebih dahulu sebelum simple queue maka kita harus bisa menentukan dan membedakan kedua fungsinya, saya pribadi menggunakan Simple queue sebagai limiter dan Queue Tree sebagai Master management bandwithnya, dengan catatan hasil akhirnya kecepatan Client nantinya akan mengikuti limit yang terkecil.

Salah satu kunci sukses dalam managemen bandwidth adalah memahami fungsi pada prakteknya, bukan hanya sekedar mengerti secara teorinya saja.



Sumber : 





0 comments:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Semester Aktif