Friday, December 12, 2008

Tangkal Virus Kartu Kredit

Rate this posting:
{[['']]}

SEMBILAN juta pemilik kartu kredit di Indonesia pantas resah mendengar kabar ancaman virus koobface yang konon bisa membobol kartu kredit lewat situs jejaring sosial seperti Facebook, Friendster, MySpace dan semacamnya. Namun ada beberapa jurus ampuh untuk menangkal aksi pembobolan lewat dunia maya itu. Apa saja jurus-jurus? ?

BERITA penyebaran virus koobface yang menyebar lewat situs jejaring sosial Facebook, memang sempat memicu keresahan para pemilik kartu kredit di Indonesia. Dalam berbagai blog dan milik komunitas pemilik kartu kredit, bahasan tentang 'hantu virus Koobface' menjadi topik 'hot issue' lantaran mereka khawatir kartu kreditnya bakal dikuras oleh pembobol.

Memang sih, aksi pembobolan kartu kredit lewat situs-situs pertemanan selama ini lebih banyak mencuat kasusnya di luar negeri. Namun bukan tidak mungkin aksi serupa bakal mengancam sembilan juta pemilik kartu kredit di Indonesia. Untuk mencegah dan menangkal pembobolan, pakar telematika Roy Suryo memberikan kiat-kiat khusus. Antara lain, mulai saat ini jangan sembarangan berasyik-asyik menggunakan email dan blog internet gratisan berbasis provider dari luar negeri seperti email gratis dari yahoo, google dan semacamnya. Disarankan pula agar tidak sembarangan mencantumkan data-data pribadi, baik itu nomor telepon rumah, telepon genggam, tanggal kelahiran dan semacamnya lewat situs jejaring sosial seperti Facebook.

"Bahaya sekali! Tanpa sadar, kita sering menggunakan tanggal lahir istri, anak atau diri kita sendiri untuk password kartu kredit. Data-data itu kalau sampai kita cantumkan di Facebook, pembobol akan sangat mudah menjebol kartu kredit kita," kata Roy Suryo yang dihubungi Persda Network, Kamis (11/12) kemarin.

Menurut Roy, potensi pembobolan kartu kredit lewat Facebook bisa saja terjadi di Indonesia lantaran masyarakat Indonesia punya tipikal gampang lupa dan sedikit sembrono. Dengan alasan takut lupa, password kartu kredit sering diinformasikan kepada istri atau anak-anaknya lewat email atau situs jejaring sosial. Padahal email gratisan berbasis provider luar negeri cenderung mudah dibobol. "Apalagi orang Indonesia sering sembrono menjadi satu password untuk banyak urusan. Ya buat kartu kredit, buat password mobile banking, buat pasword ATM dan macam-macam. Ini berbahaya sekali," ujar dosen UGM Yogyakarta itu.

Karena itu, Roy menyarankan agar penggunaan email lebih berbasis kepada email perusahaan resmi yang berbasis di Indonesia seperti emailnya telkom, emailnya indosat, pertamina, email perbankan, atau email Badan Usaha Milik Negara (BUMN). "Kalau ada apa-apa, misalnya pembobolan, itu mudah dipertanggungjawabkan," tuturnya.

Namun Roy tidak bermaksud menakut-nakuti. Sejatinya, mayoritas pembobol kartu kredit itu malas menjebol kartu kredit milik orang Indonesia. Mereka lebih suka membobol kartu kredit di luar negeri atau kartu kredit terbitan luar negeri yang dipakai di Indonesia. Mengapa? "Para pembobol itu suka bercanda meledek, katanya malas membolol kartu kredit Indonesia karena nggak ada isinya (nggak ada duitnya)," kelakar Roy. Lagipula, pemilik kartu kredit yang tergabung dalam situs jejaring sosial juga masih sangat sedikit. Inilah yang membedakan fakta di luar negeri.

Jangan Sembarangan Download!

Seperti diketahui, pengelola situs Facebook sendiri pekan lalu mengakui tingginya potensi ancaman pembobolan kartu kredit lewat situs jejaring sosial. Koobface, nama virus yang menyebar lewat Facebook, memanfaatkan fitur messaging di Facebook untuk menginfeksi komputer (PC), lalu mencoba mencuri informasi penting seperti nomor kartu kredit.

"Beberapa virus lain juga memanfaatkan Facebook dengan cara yang sama untuk menyebarkan diri," kata juru bicara Facebook, Barry Schnitt lewat email, akhir pekan lalu.

Memang prosentase pengguna Facebook yang terinfeksi vius ini masih sangat kecil. Dalam sebuah blog disebutkan, sejumlah peneliti menemukan fakta bahwa Koobface sudah bergentayangan di Facebook. Koobface menyebar dengan cara mengirimkan pesan tagline yang menggelitik ke daftar teman pengguna Facebook yang sudah terinfeksi virus.

Pesan tersebut, yang salah satu subyeknya berbunyi "You look just awesome in this new movie", jika diklik nantinya akan menggiring user ke sebuah situs di mana user akan diminta untuk men-download sebuah software jahat yang menyamar sebagai update Flash Player.

Jika software itu didownload, komputer akan terinfeksi virus. Parahnya lagi, komputer yang sudah terinfeksi itu bisa menginfeksi situs-situs lain ketika menggunakan mesin pencari Google, Yahoo, MSN dan Live.com.

Sialnya, kata Chris Boyd, peneliti di FaceTime Security Labs, pengguna Facebook kurang peduli terhadap pesan yang mereka terima. "Mereka cenderung lengah. Mereka berpikir bahwa seseorang sudah log in dengan menggunakan sebuah account untuk bisa masuk ke Facebook, sehingga berpikir tidak mungkin virus bisa menginfeksi mereka," kata sesalnya.


Tangkal Virus Kartu Kredit

Vaksincon
Statistik alamat IP yang mengandung virus yang dicatat NNP.
Artikel Terkait:

* Jangan Abaikan Pencurian Data oleh Orang Dalam
* Rusia Pantau Virus Komputer Indonesia
* Waspadai Ulah Jahat RootKit
* Kaspersky Paling Ampuh Deteksi Malware


Jumat, 12 Desember 2008 | 09:08 WIB

SEMBILAN juta pemilik kartu kredit di Indonesia pantas resah mendengar kabar ancaman virus koobface yang konon bisa membobol kartu kredit lewat situs jejaring sosial seperti Facebook, Friendster, MySpace dan semacamnya. Namun ada beberapa jurus ampuh untuk menangkal aksi pembobolan lewat dunia maya itu. Apa saja jurus-jurus? ?

BERITA penyebaran virus koobface yang menyebar lewat situs jejaring sosial Facebook, memang sempat memicu keresahan para pemilik kartu kredit di Indonesia. Dalam berbagai blog dan milik komunitas pemilik kartu kredit, bahasan tentang 'hantu virus Koobface' menjadi topik 'hot issue' lantaran mereka khawatir kartu kreditnya bakal dikuras oleh pembobol.

Memang sih, aksi pembobolan kartu kredit lewat situs-situs pertemanan selama ini lebih banyak mencuat kasusnya di luar negeri. Namun bukan tidak mungkin aksi serupa bakal mengancam sembilan juta pemilik kartu kredit di Indonesia. Untuk mencegah dan menangkal pembobolan, pakar telematika Roy Suryo memberikan kiat-kiat khusus. Antara lain, mulai saat ini jangan sembarangan berasyik-asyik menggunakan email dan blog internet gratisan berbasis provider dari luar negeri seperti email gratis dari yahoo, google dan semacamnya. Disarankan pula agar tidak sembarangan mencantumkan data-data pribadi, baik itu nomor telepon rumah, telepon genggam, tanggal kelahiran dan semacamnya lewat situs jejaring sosial seperti Facebook.

"Bahaya sekali! Tanpa sadar, kita sering menggunakan tanggal lahir istri, anak atau diri kita sendiri untuk password kartu kredit. Data-data itu kalau sampai kita cantumkan di Facebook, pembobol akan sangat mudah menjebol kartu kredit kita," kata Roy Suryo yang dihubungi Persda Network, Kamis (11/12) kemarin.

Menurut Roy, potensi pembobolan kartu kredit lewat Facebook bisa saja terjadi di Indonesia lantaran masyarakat Indonesia punya tipikal gampang lupa dan sedikit sembrono. Dengan alasan takut lupa, password kartu kredit sering diinformasikan kepada istri atau anak-anaknya lewat email atau situs jejaring sosial. Padahal email gratisan berbasis provider luar negeri cenderung mudah dibobol. "Apalagi orang Indonesia sering sembrono menjadi satu password untuk banyak urusan. Ya buat kartu kredit, buat password mobile banking, buat pasword ATM dan macam-macam. Ini berbahaya sekali," ujar dosen UGM Yogyakarta itu.

Karena itu, Roy menyarankan agar penggunaan email lebih berbasis kepada email perusahaan resmi yang berbasis di Indonesia seperti emailnya telkom, emailnya indosat, pertamina, email perbankan, atau email Badan Usaha Milik Negara (BUMN). "Kalau ada apa-apa, misalnya pembobolan, itu mudah dipertanggungjawabkan," tuturnya.

Namun Roy tidak bermaksud menakut-nakuti. Sejatinya, mayoritas pembobol kartu kredit itu malas menjebol kartu kredit milik orang Indonesia. Mereka lebih suka membobol kartu kredit di luar negeri atau kartu kredit terbitan luar negeri yang dipakai di Indonesia. Mengapa? "Para pembobol itu suka bercanda meledek, katanya malas membolol kartu kredit Indonesia karena nggak ada isinya (nggak ada duitnya)," kelakar Roy. Lagipula, pemilik kartu kredit yang tergabung dalam situs jejaring sosial juga masih sangat sedikit. Inilah yang membedakan fakta di luar negeri.

Jangan Sembarangan Download!

Seperti diketahui, pengelola situs Facebook sendiri pekan lalu mengakui tingginya potensi ancaman pembobolan kartu kredit lewat situs jejaring sosial. Koobface, nama virus yang menyebar lewat Facebook, memanfaatkan fitur messaging di Facebook untuk menginfeksi komputer (PC), lalu mencoba mencuri informasi penting seperti nomor kartu kredit.

"Beberapa virus lain juga memanfaatkan Facebook dengan cara yang sama untuk menyebarkan diri," kata juru bicara Facebook, Barry Schnitt lewat email, akhir pekan lalu.

Memang prosentase pengguna Facebook yang terinfeksi vius ini masih sangat kecil. Dalam sebuah blog disebutkan, sejumlah peneliti menemukan fakta bahwa Koobface sudah bergentayangan di Facebook. Koobface menyebar dengan cara mengirimkan pesan tagline yang menggelitik ke daftar teman pengguna Facebook yang sudah terinfeksi virus.

Pesan tersebut, yang salah satu subyeknya berbunyi "You look just awesome in this new movie", jika diklik nantinya akan menggiring user ke sebuah situs di mana user akan diminta untuk men-download sebuah software jahat yang menyamar sebagai update Flash Player.

Jika software itu didownload, komputer akan terinfeksi virus. Parahnya lagi, komputer yang sudah terinfeksi itu bisa menginfeksi situs-situs lain ketika menggunakan mesin pencari Google, Yahoo, MSN dan Live.com.

Sialnya, kata Chris Boyd, peneliti di FaceTime Security Labs, pengguna Facebook kurang peduli terhadap pesan yang mereka terima. "Mereka cenderung lengah. Mereka berpikir bahwa seseorang sudah log in dengan menggunakan sebuah account untuk bisa masuk ke Facebook, sehingga berpikir tidak mungkin virus bisa menginfeksi mereka," kata sesalnya.

Facebook telah mengimbau anggotanya untuk menghapus email yang mencurigakan. Facebook juga memposting petunjuk bagaimana membersihkan komputer yang terinfeksi virus di http://www.facebook.com/security. Richard Larmer, chief executive RLM Public Relations di New York yang merupakan salah satu pengguna Facebook yang bernasib sial. Ia terpaksa 'membuang' PCnya setelah terinfeksi Koobface. "Ini benar-benar buruk. Virus ini menghancurkan komputer saya," umpatnya. (Persda Network/Agung Budi)


0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More